Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Jelita Sejuba: Menguak Sisi Psikologis Seorang Istri Tentara

“Beruntung sekali Jelita Sejuba memiliki Putri Marino yang berhasil menjadi nyawa bagi film ini”

poster jelita sejuba

     Bicara kehidupan tentara dan romansa cintanya di Film Indonesia memang bukan hal yang baru. Setidaknya hal ini pernah dipotret dalam 3 tahun terakhir di film Doea Tanda Cinta (2015), Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon (2016) dan Merah Putih Memanggil (2017). Ketiga film ini menyoroti sisi para tentara dengan segala kegagahannya. Umumnya film – film ini banyak menceritakan suka-duka kehidupan tentara hingga romansanya dari sisi psikologis mereka sendiri. Bagaimana perasaan menjadi istri seorang tentara hanya sebagai penguat karakter utama.

     Ray Nayoan (salah satu sutradara di film omnibus Takut: Faces of Fear) mencoba menghadirkan sisi psikologis seorang istri tentara dalam film panjang bioskop perdananya, JELITA SEJUBA: Mencintai Kesatria Negara.

     Sharifah (Putri Marino) seorang jelita (baca: gadis) Sejuba, pesisir di kepulauan Natuna, sehari-harinya menjaga warung bersama teman-temannya. Ia bertemu dengan Jaka (Wafda Saifan Lubis) seorang tentara yang sedang ditugaskan di tempat Sharifah tinggal. Seorang tentara yang kaku bertemu dan jatuh cinta dengan gadis daerah yang lugu adalah premis utama yang dihadirkan. Bukan suatu hal yang baru tapi masih menarik untuk disimak.

     Kebersamaan mereka tidak bertele-tele. Ray Nayoan pandai dalam mengenalkan karakter utama kepada penonton sejak awal film dimulai. Emosi saya sepenuhnya sudah terinvestasikan kepada Jaka dan Sharifah. Setidaknya pada separuh awal perjalanan mereka dari berkenalan hingga memutuskan untuk menikah.

Adegan Jaka melamar Sharifah adalah salah satu adegan melamar paling romantis yang pernah saya temui di sinema Indonesia.

     Setelah menikah fokus film pada kehidupan Sharifah yang sering ditinggal Jaka bertugas. Banyak sekali kisah Sharifah yang ingin diceritakan selama ditinggal Jaka. Mulai dari kehamilan hingga kelahiran anak pertama, kesulitan keuangan, rasa rindu, belum konflik pribadi keluarga Sharifah sepeninggal ayahnya (Yayu Unru).

     Kisah yang terlalu banyak ini memang berhasil disiasati oleh Ray Nayoan dengan efektif. Alih-alih menggunakan time frame “3 bulan kemudian, 1 tahun kemudian”, Andhy Pulung mampu menerjemahkannya dengan editing yang khas dan unik namun tetap informatif. Lihat saja bagamana scene ketika mereka mengajukan berkas lamaran nikah atau ketika adegan Sharifah kontrol kehamilannya ke rumah sakit. Ia datang ketika baru hamil beberapa bulan saja, namun begitu keluar rumah sakit perutnya sudah membesar. Scene ini cukup mampu mengundang tawa penonton.

     Sayangnya, konsep ini tidak bisa dipertahankan Ray Nayoan. Menjelang akhir film, ia tetap menggunakan konsep time frame dan membubuhi film dengan “40 hari kemudian”. Mengapa hal ini tidak bisa disiasati?

     Kebingungan sekaligus terburu-burunya Jelita Sejuba mulai terlihat sejak Farhan (Aldy Maldini), adik Sharifah, dipukuli oleh preman. Cepat sekali scene ini menggambarkan mulai dari Farhan dipukuli, hingga masuk rumah sakit disertai narasi yang menjelaskan bagaimana Farhan bisa selamat.

     Setelahnya Jelita Sejuba makin berantakan dalam menguak sisi psikologis Sharifah sebagai istri tentara. Film yang diawal renyah, mengundang tawa mungkin bermaksud menjadi melodrama pada paruh keduanya namun tetap mempertahankan rasa di paruh pertamanya. Saya tidak pernah betul-betul diajak menyelami bagaimana perasaan seorang Sharifah sehingga scene yang seharusnya mengundang air mata, menjadi biasa saja karena saya tidak diantar menuju ke sana. Scene bagaimana Sharifah curhat kepada ibunya dibalik temaramnya kelambu, hanya hadir begitu saja.

     Jelita Sejuba tetap berusaha melucu meski bukan pada bagiannya. Coba apa faedah Nazar, seorang lekaki (mungkin) yang pernah dijodohkan dengannya, muncul kembali selepas Sharifah menikah dan memiliki anak. Apakah ia menjadi pahlawan karena saat itu Sharifah memang sedang kesulitan keuangan? Ataukah ia hanya pamer kalau ia sudah menjadi kaya raya dan akan mengembangkan bisnis?

     Dalam hati Sharifah pasti berkata “untung aku nggak nikah sama dia“. Hahah. Yele-yele. Nazar menjadi sosok tidak penting dalam film ini. Kehadirannya hanya agar penonton tertawa. But for me, it’s not funny. Meski ia membeli dagangannya Sharifah seharga 720.000, toh Sharifah tetap menjual mas kawinnya untuk membayar gaji karyawannya. Kehadiran Nazar sebetulnya bisa dialihkan untuk menceritakan hal lain yang bisa mendukung bagian yang lainnya.

     Sharifah istri yang setia. Ia tetap menunggu suaminya untuk pulang meski dalam ketidakpastian. Lagu Anji yang berjudul “Menunggu Kamu’ disisipkan di tengah film. Penempatannya pas dan lagunya juga bagus. Sayangnya, konsep musik lokal yang dibangun sejak awal tiba-tiba menjadi pudar tatkala lagu Anji yang bernuansa pop ini disisipkan. Saat ini, memasukkan sebuah lagu soundtrack dalam film seperti sebuah keharusan. Padahal tidak semestinya begitu. Sebuah soundtrack bisa saja digunakan sebagai materi promosi film tidak melulu dipaksakan harus masuk di film.

     “Fly My Eagle” lagu Anggun yang menjadi soundtrack Pendekar Tongkat Emas pun hanya hadir menemani credit title ketika filmnya selesai. Tentunya, Erwin Gutawa paham betul tak ingin merusak konsep musik dalam filmnya dengan jenis yang berbeda pada tempat yang tak seharusnya. Sementara Ricky Surya Virgana seperti ada keharusan memasukkan “Menunggu Kamu” ke dalam Jelita Sejuba sehingga menjadi sebuah pendengaran asing di tengah konsep musik yang sedari awal dibangun dengan lokal yang kuat.

Alam Natuna dan konsep lokalitas yang kental menjadi hal terbaik dari Jelita Sejuba.

     Pada akhirnya Jelita Sejuba seperti sebuah eksperimen dari para pembuatnya. Apapun yang ada di benak para pembuatnya harus diimplementasikan dalam film. Padahal, naskah karya Jujur Prananto ini masih bisa memotret lebih dalam lagi sisi Sharifah dengan latar lokalnya Natuna sebagaimana Jujur pernah melakukannya dengan apik dalam Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2016).

     Ray Nayoan sepertinya menyadari penuturannya di paruh kedua kehilangan pegangan. Bisa terlihat ketika Sharifah harus menerima kenyataan bahwa Jaka telah meninggal. Ia menggunakan musik yang begitu menyayat ditambah dengan narasi yang menceritakan kehebatan Jaka di medan pertempuran. Hal ini digunakan karena Ray memang sadar penonton tak pernah diberikan empati apa yang dilakukan Jaka di medan pertempuran. Semuanya hanya dilukiskan dalam kilas balik sesaat saja.

     Jikalau saya membandingkan dengan film Merah Putih Memanggil, scene serupa ditemukan tatkala Happy Salma harus menjemput suaminya pulang dalam keadaan meninggal. Tak perlu musik menggelagar atau narasi berlebihan, saya dibawa larut dalam perasaan Happy Salma karena sebelumnya saya diberi kesempatan untuk empati pada suaminya. Sementara Jelita Sejuba menyelesaikan semuanya dengan narasi yang dibacakan oleh Donny Alamsyah. Beruntung, Jelita Sejuba memiliki Putri Marino yang berhasil menangani adegan ini.

     Sebagai debut perdana, Jelita Sejuba masih terhitung sebagai karya yang patut diapresiasi. Suguhan yang mengundang tawa, haru bercampur sedih meski tak pernah tersampaikan semuanya, terutama pilihan ending yang saya tak mengerti betul tujuan dan motivasinya.

 

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.