Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Aruna & Lidahnya: Perjalanan untuk Menemukan Makna Cinta dan Kehidupan

“Aruna & Lidahnya membawa misi lebih dalam daripada sekedar kuliner. Sebuah perjalanan untuk menemukan makna cinta dalam obrolan santai, tentunya sambil makan”

poster aruna

     Selepas Posesif (2017) – film panjang bioskop pertamanya – sukses di ajang Festival Film Indonesia 2017, rumah produksi Palari Films kembali mempersembahkan film terbarunya, Aruna & Lidahnya. Menunjuk kembali Edwin sebagai sutradara, tentunya Aruna & Lidahnya adalah suatu hal yang menjanjikan, mengingat Edwin adalah peraih piala citra Sutradara Terbaik FFI tahun lalu. Diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama ini, bagaimanakah Aruna & Lidahnya bergulir?

     Cerita bermula dari Aruna (Dian Sastrowardoyo) seorang ahli wabah yang ditugaskan untuk menginvestigasi kasus flu burung di empat lokasi; Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang. Di satu sisi, sahabatnya Chef Bono (Nicholas Saputra) mengajaknya untuk kuliner di daerah-daerah tersebut, bahkan ia sudah membuat list tempat kuliner yang bisa dikunjungi.

via grid.id

Parade Kuliner Nusantara

     Nusantara memang luas dan beragam, pun dengan kulinernya. Aruna & Lidahnya mengeksplorasi kuliner nusantara di empat lokasi tersebut. Mulai dari rawon (Surabaya), campur lorjuk (Pamekasan), pengkang (Pontianak), dan choi pan (Singkawang).

     Penata kamera, Amalia TS, lihai sekali membingkai makanan nusantara sehingga tampil begitu menggoda di layar lebar. Saat parade makanan ini muncul, tak banyak kata yang dihadirkan. Sejatinya, memang makanan ini menjadi latar untuk mengetahui dan menyelami konflik Aruna & Lidahnya yang justru lebih asyik dinikmati dibanding kulinernya itu sendiri.

Cinta itu (bukan) buta, tapi…..menerima!

     Dalam perjalanannya, Aruna & Bono ditemani dua tokoh lainnya yakni Nad (Hannah Al-Rashid) seorang reviewer makanan yang tinggal di luar negeri dan Farish (Oka Antara) teman lama yang ditaksir Aruna sejak mereka sekantor bareng.

     Nah, spoiler dikit ya. Jadi, Bono itu naksir sama Nad tapi nggak berani ngungkapin, begitu juga Aruna yang naksir Farish tapi kemudian urung karena Farish punya pacar baru dan resign dari kantornya. Maka mereka berpisah, sebelum dipertemukan kembali oleh flu burung.

     Konflik dalam diri pribadi masing-masing inilah salah satu yang menarik dari Aruna & Lidahnya. Perjalanan pun semakin membuka rahasia masing-masing dari mereka. Adanya cinta memang harus dibarengi dengan keterbukaan dan kejujuran. Sekedar untuk membuktikan apakah ini cinta buta atau suatu penerimaan diri.

Orang punya rahasia gak ya seperti aku? Kalau ada gimana solusinya?/ via youtube.com

     Sering kita dengar istilah cinta itu buta. Mungkin betul, tapi apa yang terjadi jika mata kita kembali normal? Bubar! Ya, beda dengan menerima. Apapun itu, seburuk apa pun masa lalu, selalu ada tempat untuk menyelesaikannya selama memang kita tegas untuk menyelesaikannya.

     Seakan mempertegas bagi penonton yang masih belum selesai dengan masa lalu, begitu film dimulai sudah dibuka dengan lagu lawas ‘Aku Ini Punya Siapa’ dari suara indah Januari Christy. Dipermanis dengan lagu ‘Tentang Aku’ milik Jingga yang dinyanyikan ulang oleh Fe Utomo dan ‘Antara Kita’ versi Monita Tahalea, yang dulu sempat dipopulerkan oleh Rida Sita Dewi.

4 Cast yang Natural

     Kolaborasi Dian Sastrowardoyo, Oka Antara, Hannah Al-Rashid dan Nicholas Saputra adalah salah satu yang terbaik tahun ini. Mereka berempat selayaknya memang teman dan ngobrol dengan sangat natural tak terkesan dibuat-buat. Penampilan mereka inilah yang seringkali membuat saya terhubung dengan obrolan-obrolan ringannya mulai dari rasa makanan hingga teori Big Bang.

     Dian Sastro yang tidak hanya berperan sebagai pemain tapi juga sebagai narator yang berbicara langsung kepada penonton, mampu menyajikan akting yang bikin geregetan. Saya selalu dibuat senyum-senyum kecil oleh aksinya tatkala kamera close up wajahnya. Tak mudah lho, akting hanya dengan eskpresi tanpa bantuan dialog. Sebagaimana film adalah bahasa gambar, Dian Sastro menyampaikan pesan film dengan eskpresi yang sangat memuaskan.

Akan banyak scene Dian Sastro menatap kamera yang bikin kita gregetan – Cewek yang makan mie ayam itu, juga punya peran yang penting dalam film ini.

     Nicholas mendapat tantangan baru sebagai chef. Namun jika saya perhatikan dari menit awal, hampir tidak ada scene yang menunjukkan ia utuh sebagai seorang chef. Terkadang kamera hanya menyoroti setengah badan Nicholas dengan tangan yang memegang wajan, lalu kamera pindah ke wajan yang dipegang oleh Nicholas. Tak ada scene utuh yang memperlihatkan Nicholas betul-betul sedang memasak dalam layar penuh.

     Aksi memasak Chef Bono memang sedikit di awal, membuat saya ingin menyaksikan kembali aksinya, sekedar untuk memperkuat praduga saya salah. Di akhir film, Chef Bono meminta izin kepada penjual nasi goreng untuk memasak sendiri. Nah, silakan diperhatikan, lagi-lagi pola kameranya berulang, kembali tak ada scene utuh yang memperlihatkan Nicholas jago masak. Dalam hal ini, saya lebih percaya kemampuan Chef Rama (dalam film Koki-koki Cilik) dibanding chef Bono dalam hal masak-memasak.

Mereka lebih cocok dipasangkan sebagai teman daripada sebagai pasangan./ via youtube.com

Ngalor ngidul yang penting bareng temen dan sambil makan.

     Jujur saja, Aruna & Lidahnya tak terlalu menggugah saya untuk mencoba satu persatu makanan yang ada di layar. Tapi… Aruna & Lidahnya bikin saya kangen setengah hidup, ingin kulineran bareng teman diselingi ngobrol-ngobrol gak jelas. Ya Tuhan, beneran iri melihat mereka berempat. Memiliki teman sehobby yang bisa diajak main bareng itu anugerah tak ternilai lho.

Apa sih yang mereka obrolkan?

     Saya lupakan pembahasan flu burung sebagaimana Farish yang menyangsikan keseriusan Aruna dalam hal menangani kasus yang dipercayakan kantor padanya.

     Ada satu scene ketika mereka berempat makan nasi cumi di pelabuhan di Surabaya. Mereka berbincang-bincang mulai dari rasa makanan, vaksin halal, agama hingga ngomongin temen yang mungkin sedang izin sebentar menerima telepon dari orang lain atau sekedar ke toilet.

     Coba lihat saja, bagaimana Nad menuduh Farish sebagai orang ketiga dari rumah tangga orang lain, hanya dilihat dari gaya ia menerima telepon. Buruk sangka kan namanya? Hahha, tapi diamini oleh Aruna lho.

Salah satu scene terbaik di Aruna & Lidahnya. Obrolannya hangat dan mengalir./via Palari Films

Hidup itu seperti makanan, kalau dimakan sendiri-sendiri, lo bisa ngerasa seasin-asinnya atau sepahit-pahitnya. Tapi kalau dimakan bareng, ia akan mengeluarkan jati diri yang sesungguhnya

Nah, coba ingat-ingat kembali, pernahkah kita kulineran bareng temen, tapi mesennya beda menu biar bisa saling icip?

     Dari obrolan mereka, film yang ditulis oleh Titien Wattimena ini membawa saya pada arti sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan bisa jadi tidak mengubah sesuatu tapi ia pasti menawarkan sebuah makna. Jauh kemana pun kita pergi, lidah kita akan tetap merasakan masakan terbaik adalah masakan ibu, tempat terbaik adalah rumah, dan satu-satunya alasan kita pergi jauh adalah PULANG!

Terimakasih Aruna & Lidahnya, silakan berpetualangan mulai Kamis, 27 September 2018 di bioskop!

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.