Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Salawaku (2016): Sepenggal Kisah Perempuan dalam Hamparan Keindahan Alam Maluku

Salawaku mengambil genre road movie dengan latar Pulau Seram Bagian Barat

Mendapat penghargaan sebagai Film Panjang Bioskop Terbaik di ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 juga merajai nomine Festival Film Indonesia (FFI) 2016, tentu membuat saya penasaran akan film ini. Film yang akhirnya meraih beberapa piala citra seperti Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dan Penata Sinematografi Terbaik tayang kembali di Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada Rabu, 23 September 2020 pukul 21.30 WIB.

Ya betul, film tersebut adalah Salawaku yang diproduksi oleh Kamala Film dan Remonity Foundation. 

Salawaku mengambil genre road movie dengan latar Pulau Seram Bagian Barat. Banyak alam-alam indah yang tertangkap kamera Faozan Rizal dengan baik. Mulai dari pantai, laut, pasir, hingga sungai. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah air terjun Lumoli. Menonton Salawaku menyadarkan saya bahwa banyak lokasi-lokasi di Indonesia yang cocok untuk dijadikan lokasi syuting, pula menambah rasa cinta saya terhadap alam negeri ini.

Mengangkat permasalahan perempuan

Salawaku sendiri adalah nama seorang tokoh anak dalam film tersebut. Diperankan dengan baik oleh Elko Kastanya, Salawaku berusaha mencari kakaknya, Binaiyya (Raihanuun) yang pergi dari kampungnya. Dalam perjalananannya Salawaku bertemu Saras(Karina Salim). Saras pun memiliki kisahnya sendiri. Dengan masing-masing kisah tersebut, perjalanan Salawaku dan Saras pun dimulai.

Berangkat dari premis pencarian Binaiyya, sesungguhnya film ini pun adalah film tentang mencari kepastian. Subjek yang diangkat dalam film ini adalah wanita. Dua wanita dalam film ini sama-sama mencari kepastian. 

Saras menanti kepastian pacarnya untuk segera menikahinya. Kepastian ini selalu ia bawa dan simpan selama perjalanannya bersama Salawaku. Sementara Binaiyya yang pergi pun sedang berharap kepastian. Suatu kepastian akan permasalahan kelam yang akan menentukan hidup Binaiyya selanjutnya. 

Kedua permasalahan yang dialami oleh Saras dan Binaiyya sama-sama masalah perempuan. Dengan latar yang bertolak belakang, yakni Saras yang mewakili wanita urban, sementara Bianiyya wanita sub urban, Salawaku seakan hendak memberi tahu bahwa permasalahan diskriminasi terhadap perempuan bisa terjadi di mana saja. Terlebih Iqbal Fadly dan Titien Wattimena yang dipercaya menulis naskah, sangat berusaha membenturkan masalah yang dialami Binaiyya dengan aturan adat yang berlaku di mana Binaiyya tinggal.

Isu besar yang diangkat Salawaku terasa lebih sederhana dan mudah masuk ke penonton berkat pengarahan sutradara Pragita Arianegara yang pandai melakukan pembabakan. Ia juga mampu menjaga tempo dan alur penceritaan dengan baik. Di paruh awal penonton diajak bersenang-senang dengan alam Maluku sembari mengenalkan karakter, sejurus kemudian mengupas konflik.

Mengungkap perbedaan budaya antar daerah

Hal lain yang harus diapresiasi dari Salawaku adalah benturan perbedaan bahasa/istilah. Beberapa istilah seperti “gokil banget”, “gagal paham”, “balas budi” menambah gelaran rasa humor sepanjang durasi. Tapi fenomena yang biasa kita sebut dengan Culture Shock ini bukan sekadar sisipan humor, tapi sekaligus menyadarkan pula bahwa di saat teknologi berkembang, masih banyak daerah yang belum tersentuh teknologi. Di saat generasi urban milenial tidak asing dengan "post, like and comment", Salawaku untuk difoto saja harus berusaha keras menampilkan senyum terindahnya. 

Cukup kuat dengan isu yang ditawarkan serta pendekatan road movie yang menyenangkan, Salawaku nggak sepenuhnya berjalan mulus. Selain pendekatan seperti ini akan berpotensi mengaburkan isu yang diangkat, karena distraksi keindahan alam (bak promo pariwisata), Salawaku juga luput dari detail-detail kecil.

Misalnya saja detail yang terjadi pada ponsel Saras. Dalam film tidak ditunjukkan adegan mengecas, tapi ponsel tersebut bisa bertahan selama seharian penuh. Ditambah lagi sebelumnya sudah sempat terendam air. Jika dibandingkan dengan film serupa seperti Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2016) yang juga berlatar Indonesia Timur, masalah serupa diselesaikan dengan adegan membawa ponsel karakter utama untuk dicas di rumah ketua adat. 

Meski minor, tapi hal ini cukup penting untuk memperkuat potret kehidupan sosial budaya yang menjadi latar sebuah film.

Kamu sudah nonton film ini?

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

27 comments

  1. film yang merajai festival biasanya sukses secara filmnya tapi ngga secara penonton. justru film film gini yang biasanya bagus dan bikin penasaran buat ditonton ya kak.
    1. Rata-rata demikian, karena penonton mikirnya film festival itu berat.
  2. Nah benar, saya juga sering memperhatikan detail kecil karena sebenarnya ada yang mengganggu dan bikin filmnya jadi aneh. Untungnya yang di sini tidak mengganggu.
    1. Detail kecil penting dalam sebuah film, pertanda dikerjakan dengan riset yang baik.
  3. Aku kadang juga merhatiin hal2 yang mungkin terlihat sepele di film. Aku pernah nonton film tapi upa judulnya. Habis kecelakaan tapi bajunya tetap bersih trus kok cuma kepalanya aja yg diperban. Aduh atau akunya yang lebay ya 🙈😅
    1. Nah kan, logikanya jadi nggak masuk ya.
  4. Aku malah baru tau nih
    Belum pernah nonton filmnya juga. Kayanya di semua film atau drama seklipun kalau di perhatikan ada aja yang janggal di satu titik gitu.
    1. Ya, sebagai sebuah karya tidak ada yang sempurna.
  5. jujur, aku belum pernah liat filmnya. kalau melihat alur ceritanya sih sepertinya menarik ya. beda sama film-film yang lain
    1. Ya tak apa.
  6. Menurut saya, kadang detailnya dihilangkan demi memaksimalkan durasi dengan diisi oleh pesan-pesan yang penting yang ditawarkan.
    Makanya adegan yang sebenarnya bisa dipikirkan sendiri oleh logika, dihilangkan :D

    Btw saya baru ngeh dong dengan film ini :)
    1. Bisa jadi sih. Nice insight.
  7. Ngeliat fotonya yang meranin anak-anak tapi ternyata bukan genre anak ya 😁
    1. Hehe iya, memang nggak selamanya pemeran anak itu otomotis jadi film anak. Ada beda antara film yang diperankan oleh anak-anak dengan film yang diperuntukkan untuk anak-anak.
  8. Kadang tanpa sadar kita juga perhatikan hal-hal detail dari sebuah film ya mbak. Tema ceritanya aku suka mbak.
    1. Iya MBAK
  9. Kadang tanpa sadar kita juga perhatikan hal-hal detail dari sebuah film ya mbak. Tema ceritanya aku suka mas.
  10. Filmnya menang difestival membuktikan film ini beda dgn yg lain. Aplg mengangkat culture dan budaya di Indonesia
    1. Yupz, ceritanya mainstream sih. Tapi latar budayanya kental.
  11. Aku belum nonton nih filmnya namun sepertinya menarik untuk ditonton.
    1. Yupz!
  12. aku tuh belum nonton film ini nih, tapi gemes juga ya emang sama topik atau isu perempuan yang diangkat, dan kita sebagai kamu perempuan, kadang mikir juga iya yaa, kita nunggu banget sih kepastian dari orang-orang lain, atau pun dari pasangan
    1. Memang paling jemu menunggu kepastian itu.
  13. Wow dr review ini saja sudah terlihat yaaa bahwa filmnya menarik sekali. Apalagi kl sudah menang di festival film, sudah gak diragukan lagi.
    1. Silakan buktikan sendiri.
  14. alam Maluku begitu indah, dan review Salawa dari kamu ini bikin aku kepengen berat ke Maluku
    1. Semoga kesampaian ke Maluku
Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.