Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Refleksi Konsep ‘7 Dosa Pokok’ dalam Film Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014)

Sebelum Pagi Terulang Kembali juga menunjukkan bahwa refleksi ketuhanan bisa disampaikan dengan narasi penceritaan yang mengalir

Yan, pejabat pemerintah yang bersih dan jujur/detik

Kenapa seseorang bisa melakukan korupsi?

Sebagai makhluk yang tiada daya selain atas kehendak Tuhan, manusia ada kalanya terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan aturan. Dalam diri mereka seringkali hinggap kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. Dalam kajian filsafat teologis-sosiologis, ketujuh hal tersebut dikenal sebagai 7 Deadly Sins atau 7 Dosa Pokok.

Dalam perkembangannya, konsep 7 Dosa Pokok tidak hanya diekspresikan dalam tulisan-tulisan ketuhanan, tapi juga media film. Setidaknya di jagat Hollywood ada beberapa judul yang bisa dianalisa dengan konsep ini adalah The Talented Mr Ripley (1999) mewakili aspek Kesombongan, Shallow Grave (1994) mewakili aspek Keserakahan, dan Shame (2012) mewakili Hawa Nafsu. 

Mengurai konsep 7 Dosa Pokok dalam Sebelum Pagi Terulang Kembali

Film arahan Lasja F Susatyo ini dibuka dengan adegan Firman (Teuku Rifnu Wikana) yang kembali ke rumah orangtuanya, Yan (Alex Komang) dan Ratna (Nungki Kusumastuti). Firman merupakan anak pertama Yan dan Ratna. Ia kembali ke rumah setelah bercerai dan dalam keadaan menganggur. Karakter Firman membuka film ini dengan satu konsep 7 Dosa Pokok, yakni Kemalasan.   

Pokok utama konsep 7 Dosa Pokok menerangkan bahwa satu dosa akan menimbulkan dosa lainnya. Pokok inilah yang menjadi pijakan utama Sebelum Pagi Terulang Kembali untuk mengurai konfliknya. Sejak kehadiran Firman kembali ke rumah itu, kehidupan Yan sebagai pejabat pemerintah yang lurus dan Ratna sebagai dosen filsafat di universitas terkemuka, sudah tak sama lagi. Kehidupan rumah yang semula hangat sehangat obrolan mereka di meja makan, kini menjadi dingin.

Keadaan rumah semakin berantakan tak ubahnya bak benang kusut yang sulit diurai, tatkala anak kedua mereka, Satria (Fauzi Baadila), kontraktor muda yang ambisius mengembangkan bisnisnya. Karakter Satria yang mewakili dosa Ketamakan bertemu dengan dosa Hawa Nafsu yang diwakili Hasan (Ibnu Jamil), seorang anggota DPR muda yang haus kekuasaan dan punya banyak kenalan pejabat untuk lobi politiknya.

Kedua dosa ini bertemu dan bekerjasama yang mengakibatkan lahirnya sejumlah masalah yang melibatkan seluruh karakter yang ada di film produksi Cangkir Kopi Production ini. Penulis naskah Sinar Ayu Massie cukup piawai menggambarkan hubungan antar karakter dengan dosa utama film ini: korupsi. Semisal Firman yang menganggur akhirnya mau bekerjasama dengan Satria dan Hasan menjalin dosa selanjutnya sebagai kurir pengantar uang suap.

Lebih bermasalah lagi, kerjasama Satria dan Hasan membuat Yan mengundurkan diri dari tempat kerjanya karena bisik-bisik orang kantor yang menganggap Yan punya peran penting memuluskan proyek Satria. Dan yang paling ironis, justru menimpa Ratna sendiri. Ada satu dialog yang cukup menggetarkan hati yang dilontarkan salah satu karakter kepada Ratna. 

 “Kalau di luar kamu bisa ngajarin anak orang soal filsafat, kenapa anak kamu nggak bisa kamu omongin”.

Karakterisasi Ratna sebagai dosen filsafat, seakan refleksi bagi kehidupan masyarakat bahwa dosa bisa berawal dari kehidupan keluarga yang justru jauh dari dosa. Ratna juga yang menjadi alasan kenapa film ini menarik dibahas dari sudut pandang filsafat.

Konsep 7 Dosa Pokok tidak hanya membeberkan permasalahan dosa, tapi juga memberikan mitigasi dosa tersebut melalui konsep 7 Kebajikan Pokok. Senada dengan konsep tersebut, Sebelum Pagi Terulang Kembali mengakhiri kemelut dosanya dengan satu kebajikan utama: semangat anti korupsi. Bukan hanya di resolusi akhir para karakternya, tapi juga melalui slogan-slogan yang bertebaran sepanjang film, hasil olahan artistik Oscart Firdaus yang ditangkap baik oleh kamera Nur Hidayat.

Salah satu slogan 'Berani Jujur Hebat' yang menjadi propaganda antikorupsi/Cangkir Kopi

Sebelum Pagi Terulang Kembali juga menunjukkan bahwa refleksi ketuhanan bisa disampaikan dengan narasi penceritaan yang mengalir, tidak harus selalu dogmatis.

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

29 comments

  1. NurS

    Pesan film ini harusnya kena untuk para koruptor, bahwa "dosa korupsi bisa menghancurkan pekerjaan, keluarga dan teman".
    kata-kata yang nusuk banget di film ini tuh
    "Kalau di luar kamu bisa ngajarin anak orang soal filsafat, kenapa anak kamu nggak bisa kamu omongin”.
    1. JLEB! banget sih pas dialog ini.
  2. Review film Sebelum Pagi Terulang Kembali versimu sangat menarik Mbak, karena lebih mengupas karakter dan dosanya tanpa mblejeti kesalahan. Memang, tak perlu dogmatis untuk mengambil tema religi. Cukup diingatkan pada dosa sehari-hari dengan tepat dan mungkin menusuk.
    1. Eits, maaf kok Mbak.
      Maaf lho Mas Raja
    2. Terima kasih
  3. Ibarat tukang bohong, dia akan terus berbohong demi menutupi kebohongan dan kebohongan selanjutnya ya.
    Film yang sejatinya cerminan masyarakat kita, hehehe... Sudah jadi rahasia umum kan kalau hal seperti itu terjadi pada keseharian. Semoga kita dihindarkan ya
    1. Aih ya teh. Aamiin!
  4. menarik nih 7 dosa pokok dalam film Sebelum Pagi Terulang Kembali, banyak hal yang jadi rusak karena korupsi
    1. Nice!
  5. Film ini mengajarkan pentingnya kejujuran. Seperti pepatah lama yang mengatakan siapa yanf jujur bakal mujur. Semoga pesan yg ada dalam film ini bisa ditangkap para penontonnya.
    1. Aamiin. Filmnya cukup ringan, penonton kemungkinan bisa menangkap pesan yang hendak disampaikan film ini.
  6. Sepertinya Daku belum pernah engeh lihat film ini tayang di tivi. Ide ceritanya bagus karena bisa jadi reminder tentang permasalahan korupsi yg dekat sama kita, apalagi dalam dunia kerja ya
    1. Kemarin ada di TVRI, biasanya nanti suka diputar lagi
  7. Menohok sekali kutipan kalimat yang diutarakan kepada Ratna ya. Baca ini jadi kebawa alur filmnya 😍
    1. Eits, tapi alur di filmnya belum tentu sama dengan dituliskan lho.
  8. Bacaan yang berat, tapi harus paham. Bukan buat di contoh tapi disanggah.
    Bukan buat di ikuti tapi di hindari
    1. Wow!
  9. Film-film seperti ini cocok ditonton oleh generasi muda kita.
    1. Oleh semua sih. Korupsi nggak mengenal usia.
  10. film yang menarik, mengajari kita untuk selalu jujur. semoga semakin banyak film yang mengangkat tema seperti ini
    1. Aamiin!
  11. Wow mbaa, aku suka banget dengan reviewnya. Dosa-dosa itu jadi saling berkaitan satu sama lain. Aku jd membayangkan bagaimana filmnya dan penasaran
    1. Terima kasih
  12. Mbaaak, ini nontonnya di mana? Perilaku hidup jujur memang nggak selalu mudah dijalankan. Adakalanya kita sudah beritikad demikian, namun kondisi memaksa kita melakukan hal yang berbeda.
    1. Kemarin nonton di TVRI.
  13. Filmnya seru juga ya membahas 7 macam dosa, aku kok kelewat ga tahu tentang film ini ya ternyata tahun 2014 ini tayangnya ya
    1. Waktu tayang di bioskop, filmnya termasuk yang sepi penonton, kurang terdengar juga gaungnya
  14. jujur belum tau tentang Film ini, tapi setelah baca tau film nya mengandung filsafat. Aku jadi penasaran ingin nonton trailernya dulu, dan semoga dapat nonton full movie. Thanks udah review Mba :)
    1. Sama-sama MBA
Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.