Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Bird Box (2018): Ketika Harus Menghadapi Musuh Dengan Mata Tertutup

Bird Box menggunakan burung sebagai petunjuk perjalanan.


Kita sebagai manusia sepatutnya bersyukur karena Tuhan sudah menciptakan kita dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kita dianugerahi indra yang mahadahsyat sehingga kita bisa melihat, mendengar, berbicara, merasa, mencium, dan lain sebagainya.

Tapi apakah kamu pernah berpikir jika indra yang Tuhan anugerahkan itu justru bisa berbahaya bagi dirimu sendiri?

Berawal dari premis yang menarik

Sulit sekali berdayung tanpa melihat deras air

Salah satu indra yang paling penting adalah mata. Dengannya kita bisa melihat segala apapun yang ada di dunia ini. Tapi Bird Box justru membuatnya berkebalikan. Mata yang kita gunakan untuk melihat malah bisa menimbulkan bahaya hingga menghilangkan nyawa kita sendiri.

Dalam film arahan Susanne Bier ini, para karakter tidak boleh melihat makhluk (mungkin) supranatural yang sedang meneror, karena akan memicu para karakter untuk bunuh diri. Serem ‘kan? Terus bagaimana cara karakter menyelamatkan diri?

Kalau kamu pernah nonton Don’t Breathe (2016) atau A Quiet Place (2018), Bird Box ini bisa dibilang mirip dari hal usaha menyelematkan dirinya.

Dalam Don’t Breathe karakter tidak boleh bernafas jikalau ingin selamat dari pembunuhan si kakek tua yang buta. Atau karakter tidak boleh berbicara/berisik jika ingin selamat dari teror A Quiet Place.

Sementara Bird Box, para karakter harus menutup mata mereka jika ingin selamat dari teror. Tapi masalah lainnya adalah kenyataan kalau musuh bisa melihat para karakter. Terdengar tidak adil bukan?

Sayang, Bird Box nggak ada seru-serunya

Saat arus deras, satu dari mereka harus melepas penutup matanya

Bird Box dibuka dengan adegan seorang ibu (Sandra Bullock) yang berusaha menyelamatkan kedua anaknya agar terhindar dari teror makhluk tersebut. Untuk berhasil pada misi ini, ketiga orang tersebut menyusuri sungai dalam keadaan mata tertutup.

Ditinjau secara akal sehat dan logika kemungkinan mereka selamat tentu sangatlah kecil. Musuh yang bisa melihat mereka, kapan saja bisa menyergap dan menyerang mereka. Dan ternyata benar selama perjalanan, ada satu musuh yang menyerang mereka dan memaksa mereka untuk melepaskan penutup mata.

Sayangnya, adegan itu hanya berlangsung sekali saja. Perjalanan yang mereka lakukan relatif aman-aman saja. Saya sendiri tidak merasakan ketegangan apapun, meski film berusaha menciptakan suasana mencekam dengan menambahkan timeframe seperti ‘2 jam di Sungai’, ’14 jam di Sungai’. Sungguh tak berarti apa-apa penanda waktu tersebut.

Banyak keanehan dan ketidakjelasan yang sulit dinalar

Lebih baik aku mati di tanganmu, daripada aku mati bunuh diri

Di tengah perjalanan mereka menyusuri sungai, naskah gubahan Eric Heisserer lebih memilih menceritakan asal muasal teror ini ke kejadian lima tahun sebelumnya. Film menggunakannya sebagai media bercerita kilas balik sehingga ketegangan utama muncul bukan dari perjalanan mereka menyusuri sungai, melainkan kisah di masa lalu.

Saat itu sang ibu tengah mengandung dan memeriksakan kehamilannya di rumah sakit. Lalu ia melihat orang yang sedang melukai dirinya sendiri dengan menggedor-gedorkan kepalanya ke dinding kaca rumah sakit.

Sang ibu pun memilih meninggalkannya dan langsung keluar dari rumah sakit. Tapi ternyata keadaan di luar justru lebih parah. Orang-orang berlarian menghindar dari teror makhluk yang belum jelas asal usulnya itu, sebagian melakukan bunuh diri massal.

Beberapa yang berhasil menyelamatkan diri secara tak sengaja kumpul di satu rumah. Barulah dari dialog-dialog antar karakter itu, perlahan mereka dan juga penonton memahami asal muasal teror tersebut.

Yang cukup mengherankan, makhluk peneror tersebut menyebabkan dua hal berbeda pada manusia yang melihatnya. Sebagian dari mereka akan terpicu untuk bunuh diri, tapi sebagian lagi akan berperan sebagai agen makhluk tersebut. Tugasnya adalah memaksa mereka yang selamat untuk membuka mata dan melihat makhluk tersebut.

Keanehan tersebut tidak mendapat cukup penjelasan seiring dengan film yang juga tidak pernah menampakkan wujud makhluk tersebut di dalam layar.

Kalau kita balik lagi ke pembahasan musuh yang menyerang sang ibu di sungai, ya ia adalah agen makhluk tersebut. Artinya teror tersebut sudah berlangsung selama lima tahun.

Latar waktu ini yang justru membuat Bird Box malah banyak plot hole-nya.

Sebagaimana manusia biasa pada umumnya, seluruh karakter yang berkumpul di satu rumah tersebut berusaha mendapatkan makanan untuk bertahan hidup. Dan dengan perjuangan dan risiko yang berat, mereka berhasil mendapatkan makanan di supermarket.

Tapi coba kamu bayangkan, bagaimana mereka bertahan hidup hanya dengan makanan di supermarket selama lima tahun? Memangnya ada makanan di supermarket yang memiliki masa kadaluwarsa sampai lima tahun? Apalagi salah satu celetukan karakter bilang bahwa makanan yang ada di supermarket itu bisa bertahan untuk satu tahun.

Memang selain berburu ke supermarket, sang ibu juga berburu ke rumah-rumah kosong. Tapi ya akan lebih parah lagi, pastinya juga takkan ada apa-apa di sana. Belum lagi orang-orang yang ada di film ini tiba-tiba menghilang. Nggak ada polisi, pejabat pemerintah, atau pun warga lainnya selain mereka yang selamat di satu rumah.

So, menurut hemat saya, film seperti Bird Box berpotensi lebih menarik kalau dibuat dengan latar waktu yang sekejap saja. Agar suasana mencekam pun turut dirasakan penonton tanpa terdistraksi.

Akting Sandra Bullock yang memikat

Kalaulah ada satu yang perlu dipuji dari Bird Box, maka pujian patut dilayangkan pada suguhan akting Sandra Bullock.

basi juga nggak apa-apa, yang penting makan

Bird Box memberikan karakterisasi yang menarik kepada karakter Malorie Hayes, sang ibu tersebut. Malorie digambarkan punya kerapuhan sendiri karena ia mengandung tanpa suami. Lalu dihadapkan pada kenyataan kelahiran anaknya di saat teror makhluk sedang ganas-ganasnya.

Semua karakterisasi Malorie Hayes ini dihidupkan dengan sangat baik oleh Sandra Bullock. Kita akan mudah dibuat empati dengan perjuangannya menyelamatkan hidup diri, keluarga, dan anaknya.

Karakter Malorie yang sangat diperdalam dibanding semua karakter lain yang ada di Bird Box ini, mungkin bertujuan untuk lebih menekankan aspek drama keluarga. Terlihat sekali di ending film yang memang menyoroti hal ini.

Tapi Bird Box lupa, ia tidak memulainya dari hal ini. Banyak aspek yang sudah Bird Box bangun sedari awal sama sekali tidak menemukan konklusinya. Sampai film berakhir, kita tidak akan tahu apa dan dari mana makhluk tersebut berasal. Apakah memang makhluk supranatural, kegagalan kecerdasan buatan atau karena hal lain.

Kita juga tidak akan pernah bisa merasakan relasi para karakter yang ada di film ini. Karena sebagaimana lazimnya film bergenre survival thriller, Bird Box menjadikan karakter lain di luar karakter utama hanya ada untuk dibunuh (mati).

Dan ya, kalau memang harus dibandingkan dengan Don’t Breathe dan A Quite Place, Bird Box sama sekali tak berdaging.

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meninggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan atau kata-kata kasar.