![]() |
| Cover memoar Broken Strings (kiri) dan penulisnya Aurelie Moeremans (kanan) (doc. instagram/@aurelie/) |
Di tengah persaingan rumah produksi memperebutkan hak siar Broken Strings, muncul sebuah kekhawatiran besar: akankah memoar Aurelie Moeremans ini menjadi karya sinema yang bermartabat, atau sekadar komoditas viral yang mengeksploitasi luka?
Belakangan ini, linimasa media sosial kita diramaikan oleh satu judul yang menggetarkan nurani: Broken Strings. Memoar karya aktris Aurelie Moeremans ini bukan sekadar buku; ia adalah sebuah deklarasi keberanian.
Melalui 220 halaman yang ia bagikan secara gratis dalam format PDF, Aurelie membedah anatomi lukanya sendiri. Mulai dari jebakan child grooming, manipulasi emosional, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Langkah Aurelie yang merilis karyanya secara bilingual dan gratis membuktikan satu hal: misinya adalah literasi dan penyadaran, bukan komersialisasi.
Namun, di industri perfilman yang selalu haus akan kekayaan intelektual (IP) yang viral, Broken Strings kini menjadi "rebutan".
Kabarnya, banyak rumah produksi (PH) besar yang mulai pasang kuda-kuda untuk meminang kisah ini ke layar lebar.
Tidak semua luka harus jadi sinema
Namun, ada sebuah pertanyaan besar yang perlu kita renungkan sebagai penikmat film: Haruskah semua kisah viral berakhir menjadi film?
Menurut hemat saya, tidak semua narasi trauma harus divisualisasikan. Ada kekuatan dalam kata-kata tertulis yang terkadang justru kehilangan "jiwa"-nya ketika diterjemahkan ke dalam adegan.
Ada risiko besar di mana trauma seorang penyintas justru tereksploitasi menjadi sekadar tontonan melodramatis demi mengejar jumlah penonton.
Jika adaptasinya hanya berfokus pada "kengerian" kejadian tanpa memahami esensi pemulihannya, maka film tersebut justru akan mencederai niat tulus penulisnya.
Tetapi, jika Aurelie Moeremans—selaku pemilik sah atas ingatan tersebut—setuju untuk memfilmkannya demi jangkauan edukasi yang lebih luas, maka pemilihan sutradara bukan lagi soal teknis, melainkan soal etika dan empati.
Kita butuh nahkoda yang tidak hanya jago memegang kamera, tapi juga mampu memperlakukan luka dengan hormat. Jika itu terjadi, saya berharap kursi sutradara jatuh di antara tiga nama besar ini:
1. Gina S. Noer: sang bedah anatomi kerentanan
Jika kita bicara tentang isu grooming dan manipulasi remaja di sinema modern, nama Gina S. Noer adalah yang terdepan.
Melalui filmnya, Like & Share (2022), Gina membuktikan bahwa ia mampu memotret kegelapan dunia digital dan predator seksual dengan cara yang sangat berani namun tetap edukatif.
Dalam Like & Share, Gina menggambarkan bagaimana dua remaja terjebak dalam rasa ingin tahu yang berujung pada trauma psikologis.
Gaya penyutradaraannya sangat mendetail, mulai dari penggunaan warna yang mencolok hingga desain suara yang membuat penonton merasakan kecemasan karakter.
Mengapa cocok untuk Broken Strings? Aurelie bercerita tentang labirin gelap di usia 15 tahun.
Gina memiliki sensitivitas luar biasa dalam menggambarkan transisi remaja menuju dewasa yang "dipaksa" oleh keadaan.
Di tangan Gina, Broken Strings tidak akan menjadi film horor fisik, melainkan horor psikologis yang membuat penonton paham bagaimana pola manipulasi itu bekerja di bawah sadar korban.
2. Kamila Andini: puisi di balik keheningan
Jika Broken Strings ingin dibawa ke arah yang lebih kontemplatif dan puitis, maka Kamila Andini adalah pilihannya.
Karya-karyanya, terutama Yuni (2021), menunjukkan kemampuannya dalam mengeksplorasi agensi perempuan di tengah himpitan ekspektasi sosial dan lingkungan yang patriarkal.
Kamila dikenal dengan gaya penyutradaraan yang tenang namun menusuk. Ia tidak butuh adegan teriakan histeris untuk menunjukkan penderitaan.
Dalam Yuni, ia memotret perjuangan seorang gadis remaja mempertahankan pilihannya di tengah tekanan untuk segera menikah.
Mengapa cocok untuk Broken Strings? Memoar Aurelie banyak berisi momen isolasi ketika ia dijauhkan dari keluarga dan kenyataan. Kamila sangat mahir menggambarkan perasaan "terisolasi" dalam keramaian.
Sentuhan Kamila akan memberikan martabat pada sosok Aurelie di layar, memastikan bahwa ia bukan sekadar "korban", melainkan seorang manusia yang sedang mencari kembali suaranya yang hilang.
3. Lola Amaria: konsistensi pada isu perempuan
Nama Lola Amaria mungkin adalah yang paling senior di daftar ini dalam hal konsistensi mengangkat isu-isu perempuan yang termarjinalkan.
Sejak awal kariernya sebagai sutradara, Lola menunjukkan ketertarikan yang sangat sensitif terhadap kisah-kisah perempuan yang berjuang di tengah kerasnya sistem.
Kita bisa melihatnya dari film-film seperti Betina (2006) atau Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Lola memiliki pendekatan yang jujur, dan seringkali bersifat advokasi. Ia tidak ragu menampilkan realitas pahit tanpa bumbu yang berlebihan.
Mengapa cocok untuk Broken Strings? Aurelie Moeremans menulis karyanya dengan kejujuran yang menyayat hati. Lola Amaria memiliki visi yang sejalan dengan kejujuran itu.
Lola cenderung memperlakukan subjeknya dengan sikap protektif namun transparan. Ia akan memastikan bahwa pesan utama tentang "pola kekerasan" tidak akan tertutup oleh gimik pemasaran sinema yang dangkal.
Empati sebagai filter utama
Memfilmkan Broken Strings adalah tugas yang berat. Ini bukan sekadar memindahkan dialog ke naskah, tapi membawa trauma nyata seorang manusia ke ruang publik.
Siapa pun sutradaranya nanti, ia harus sadar bahwa ia sedang memegang "senar yang sudah putus" dan berusaha merangkainya kembali menjadi melodi yang menguatkan orang lain.
Industri film kita harus membuktikan bahwa mereka bisa lebih dari sekadar pemburu viralitas. Mereka harus menjadi ruang aman bagi para penyintas untuk bercerita.
Dan di tangan Gina S. Noer, Kamila Andini, atau Lola Amaria, kita setidaknya punya harapan bahwa kisah Aurelie akan tetap menjadi sebuah obor penerang, bukan sekadar komoditas dagang.
Itu pilihan saya. Gina, Kamila, atau Lola. Tapi, industri kita punya banyak warna. Bagaimana denganmu? Punya sutradara favorit yang juga layak menghidupkan Broken Strings? Siapa? Dan kenapa? Mari berbagi opini di kolom bawah!
