Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Ben & Jody: Sajian Laga yang Cukup Menyenangkan

Chemistry Ben dan Jody terasa makin intim dibanding dua film pendahulunya


Saat ini sedang heboh kasus Bupati Langkat yang diduga melakukan perbudakan warga sekitarnya. Mereka dipekerjakan di bisnis punya si bupati. Tapi warga tersebut tidak bisa menikmati dunia luar karena selepas kerja mereka harus hidup dalam kerangkeng.

Hal yang sama saya temui dalam film Indonesia terbaru, Ben & Jody. Dalam film tersebut diceritakan ada konflik antara perusahaan dengan warga sekitar. Perusahaan meminta warga untuk meninggalkan tempat tinggal mereka dan relokasi ke tempat lain.

Namun sebagian warga menolaknya dan lebih memilih mempertahankan tanah miliknya. Beberapa dari mereka yang menolak akhirnya diculik oleh pembalak liar. Mereka dipekerjakan dan harus merasakan hidup dalam kerangkeng.

Salah satu warga yang paling keras menolak relokasi tersebut adalah Ben (Chicco Jerikho). Ia pun akhirnya diculik dan disekap di kerangkeng milik pembalap liar.

Di saat yang bersamaan Ben seharusnya menghadiri undangan launching Filosofi (Disco)pi yang diprakarsai oleh temannya, Jody (Rio Dewanto). Namun karena Ben tak kunjung datang,  Jody pun pergi ke kampung halaman Ben untuk mencari tahu keberadaannya.

Lompatan genre yang berani dan eskploratif

Kenapa dari semua pekerja hanya Ben yang shirtless?/Visinema Pictures

Ben & Jody ini merupakan film yang diambil dari karakter Filosofi Kopi karya Dewi Lestari. Sebelumnya sudah ada dua film tentang mereka yakni Filosofi Kopi dan Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Dua film ini bergenre drama kuliner.

Sementara Ben & Jody yang boleh dibilang sebagai seri ketiga ini dialihkan ke genre laga. Sebuah langkah yang cukup berani dan eksploratif yang diambil oleh Angga Dwimas Sasongko.

Meski berubah genre, esensi karakter Ben dan Jody tetap dipertahankan. Ben tetaplah si tukang kopi dan Jody tetaplah si tukang perhitungan. Ben dan Jody tidak serta merta dijadikan ‘rambo’ untuk film ini.

Ben yang bersuara untuk kampungnya tetap tidak bisa menyelamatkan warga yang disekap. Pun dengan Jody yang berusaha mencari tahu dan menemukan Ben, tidak bisa menolongnya dan malah ia sendiri yang terluka.

Nah, karena mereka bukanlah pahlawan dalam film ini, Ben & Jody memperkenalkan dua karakter baru sebagai protagonisnya. Mereka adalah kakak beradik, Rinjani (Hana Malasan) dan Tambora (Aghniny Haque).

Kurangnya latar belakang untuk karakter baru

Mungkin anak panahnya sudah habis/Visinema Pictures

Kehadiran karakter baru ini tidak serta merta membuat jalan Ben & Jody tampil mulus. Justru inilah awal mula kekacauan film produksi Visinema Pictures ini.

Rinjani diperkenalkan sebagai karakter yang bisa memanah dengan tepat. Lantas bagaimana ia bisa melakukan itu semua? Siapa yang mengajarinya, atau bagaimana ia belajar?

Sembari menemukan jawabannya, mari kita melihat kehidupan kampung Ben yang berada di tengah hutan luas yang mereka sebut dengan ‘rimba’.

Dari luasnya hutan yang terlihat ketika kamera mengambilnya dari atas, yang dieksplorasi hanyalah kampung tempat Rinjani dan keluarganya tinggal. Tidak ada kehidupan warga lain di sisi hutan yang lain yang dipotret oleh film ini. Sehingga sangat sulit sekali untuk kita menilai dan mengetahui apa dan bagaimana kehidupan masyarakat kampung di sana.

Satu-satunya petunjuk tentang masyarakat di kampung Rinjani adalah percakapan Ben, Jody, dan Tambora. Itu pun hanya informasi ini yang bisa saya dapatkan yakni tentang kegiatan sehari-hari mereka adalah berladang.

So, apakah orang berladang dengan menggunakan panah? Mungkin kalau kehidupan mereka adalah berburu, cukup masuk akal kenapa Rinjani bisa memanah dengan sangat lihai.

Sebagai perbandingan, dalam series zombi yang sedang trending saat ini, All of Us Are Dead, ada dua karakter yang bisa membunuh zombi dengan panah. Dan mereka digambarkan sebagai atlet panahan. Jadi gambaran dan detail kecil sangat menunjang karakterisasi agar kita percaya dengan apa yang dilakukan para karakter.

Kekacauan bukan tampil di karakter Rinjani saja, tapi serangkaian adegan ketika scene berada di kampung Rinjani agak cukup bikin saya geleng-geleng kepala.

Begini!

Pada awalnya, Rinjani mencurigai Ben dan Jody adalah mata-mata perusahaan. Terlebih saat Rinjani menemukan mereka di dekat perkampungannya, Ben tengah membawa pistol. Mereka terus diinterogasi. Namun mereka tetap meyakinkan diri kalau mereka bukanlah seperti apa yang dipikirkan Rinjani.

Hingga tersebutlah satu nama dari mulut Ben yang membuat Rinjani yakin kalau Ben dan Jody berkata jujur. Setelah itu Rinjani menyebutkan sendiri ciri-ciri orang dari nama yang disebut Ben itu. Bukankah seharusnya Rinjani yang kroscek dan meminta Ben menyebutkan ciri-ciri orang tersebut agar bisa dipastikan Ben pernah bertemu dengan orang itu?

Selepas yakin dengan kejujuran Ben, Rinjani langsung lari dan memberi tahu Tambora tentang nama itu. Tambora dan Rinjani pun langsung berpelukan dan percaya begitu saja. Kalaupun Rinjani cukup emosional ketika mendengar nama itu, bukankah lebih baik Tambora datang langsung ke tempat Ben dan menanyakannya? Kenapa Tambora juga bisa percaya begitu saja. Apa sama-sama emosional?

Kemana rasa curiga mereka yang sejak awal sangat menjadi-jadi?

Sajian laga yang cukup menyenangkan

Aa Tubir senang dengan kopi buatan Ben/Visinema Pictures

Terlepas dari permasalahan kecil tentang latar belakang, sebagai film laga saya sangat menikmati sekali apa yang disajikan oleh Ben & Jody. Bagaimana para karakter bertarung dan berkelahi, baik menggunakan tangan kosong ataupun dengan alat, semuanya tertata cukup apik.

Yayan Ruhian dengan karakter uniknya sebagai ketua pembalak liar, menjadi kunci utama kenapa laga dalam film ini tampil sangat menyenangkan.

Setidaknya, urusan laga dalam film ini jauh lebih baik daripada yang pernah Angga arahkan dalam Wiro Sableng.

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.