Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review Percy (2020): Pertarungan Hukum Yang Tak Seimbang

Saat akhirnya Percy berada di pengadilan hukum tertinggi, rasa ragu mulai menyelimuti dirinya

Percy: setiap manusia sama kedudukannya di mata hukum. 

Begitulah kiranya yang tertulis di atas kertas dan peraturan semestinya. Tapi pada kenyataannya, terkadang hukum berpihak pada mereka yang beruang (memiliki kekayaan). Ketidakadilan juga terkadang dipertontonkan oleh para pejabat tanpa rasa malu.

Dalam hal ini, rakyat kecil hanya menjadi penonton setia drama ini. Dan mereka hanya bisa pasrah ketika harus berurusan hukum dengan orang-orang kaya dan berpengaruh. Bahkan tak jarang juga pejabat hukum menawarkan ‘pemerasan’ terselubung jika ingin kasusnya selesai. 

Untuk kasus hukum, saya masih skeptis menemukan orang baik dan jujur di dalamnya.

Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh seorang petani tua, Percy Schmeiser, yang harus melawan korporasi besar di persidangan.

Kenalan dulu dengan Percy Schmeiser

Ia merasa yakin dengan pengelolaan pertaniannya

Percy Schmeiser (Christopher Walken) adalah tokoh utama dalam film Percy arahan Clark Johnson. Ia adalah seorang petani tua yang menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk pertanian. Dalam sisa-sisa hidupnya tersebut ia ditemani sang istri setia, Louise Schmeiser (Roberta Maxwell).

Kehidupannya makin lengkap dan bahagia tatkala mereka memiliki cucu dari anak lelakinya. Mungkin kehidupan Percy adalah dambaan sebagian besar orang di masa tuanya nanti. Bahagia dan selalu bersama keluarga. Serta bisa membersamai tumbuh kembang keturunannya.

Namun kebahagiaannya terusik tatkala ia dituduh oleh sebuah korporasi ternama, Monsanto. Monsanto menuduh kalau pertanian yang ia kelola menumbuhkan hasil taninya dari benih milik korporasinya.

Percy pun akhirnya harus berurusan dengan hukum. 

Fokus pada isu, bukan riwayat hidup

Pengacara jujur dan berdedikasi yang membantu Percy menghadapi Monsanto

Setidaknya ada dua pendekatan yang bisa digunakan ketika membuat film biopik. Pertama film tersebut akan mengambil riwayat hidup atau perjalanan populer dari sang tokoh. Tidak menutup kemungkinan akan diceritakan dari sejak ia lahir hingga meninggal.

Di film Indonesia sendiri, Film Terpuji Festival Festival Bandung 2014, Soekarno, adalah contoh film yang mengambil pendekatan ini.

Atau bisa mengambil pendekatan yang kedua, yakni menceritakan isu yang mempopulerkan sang tokoh. Sundul Gan: The Story of Kaskus yang bercerita jatuh bangun Andrew Darwis dan Ken Dean mendirikan startup Kaskus adalah contoh yang kedua.

Lalu bagaimana dengan Percy?

Film yang juga turut dibintangi oleh Christina Ricci ini mengambil pendekatan yang kedua. Percy fokus pada usaha dan perjuangan protagonis utama melawan Monsanto. Sebuah pertandingan hukum yang kekuatan pemainnya tidak seimbang.

Untuk mengimbangi kekuatan melawan Monsanto, Percy dibantu oleh pengacara. Selain itu ia pun mendapat dukungan dari seorang aktivis lingkungan yang memiliki tujuan tersendiri terhadap si korporasi.

Berbekal cerita dan latar hanya bolak-balik antara lahan pertanian dan pengadilan, Percy bisa saja tampil membosankan. Saya sendiri pernah beberapa kali menonton film seperti ini yang hanya bermodal bolak-balik pengadilan. Dan memang berakhir membosankan.

Kebosanan ini diperparah dengan hadirnya kosakata yang segmented. Karena film yang fokus pada isu tertentu akan cenderung menghadirkan istilah – istilah teknis yang khusus digunakan di bidang tersebut dalam dialog-dialognya. 

Seperti halnya Percy yang juga banyak menggunakan istilah-istilah pertanian untuk menguatkan cerita.

Namun dua hal di atas yang berpotensi menghadirkan kebosanan tersebut, sedikit berhasil disiasati Percy dengan menambahkan beberapa dramatik dan variasi cerita. Salah satu penambahan tersebut adalah variasi latar.

Ada satu segmen yang menceritakan Percy harus menjadi pembicara seminar di India. Di segmen ini saya melihat sinematografi yang berbeda. Tentunya saya dimanjakan dengan situasi Mumbai baik dari segi warna atau pun suasana masyarakatnya. Jadi nggak hanya berkutat di lahan pertanian Kanada dan pengadilan saja.

Apalagi sinematografer Luc Montpellier terlihat sangat handal membingkai keadaan Mumbai tersebut menjadi aspek penguat cerita.

Hati-hati dengan people power

Percy mengawasi orang-orang asing yang memasuki lahan pertaniannya

Dalam kasus hukum antara si miskin dan si kaya, atau Percy menyebutnya David vs Goliath, biasanya dukungan terhadap si miskin datang dari masyarakat luas.

Pun juga dengan Percy. Ia mendapat dukungan dari masyarakat berupa surat yang bertuliskan kekaguman mereka atas semangat Percy memperjuangkan haknya. Beberapa dari mereka pun memberikan donasi untuk membantu perjuangannya.

Tergerak dan termotivasi oleh dukungan moril dan materil dari masyarakat, Percy tak mau menyerah dan terus memperjuangkan keadilan hingga ke tahapan pengadilan tertinggi yang berlaku di sana.

Namun saat akhirnya Percy berada di pengadilan hukum tertinggi, rasa ragu mulai menyelimuti dirinya. Ia berpikir apa yang sebenarnya dirinya inginkan. Apakah memang melawan Monsanto adalah tujuan utamanya, atau ada agenda lain yang ingin dimenangkan dari kasusnya melawan Monsanto? 

Dalam kasus nyata, kekuatan dukungan masyarakat ini bisa mengubah perilaku sosial budaya yang berkembang. Sebagai contoh adalah kasus Prita Mulyasari. Mungkin kita masih ingat kasus Prita yang mengungkapkan pengalaman buruknya di salah satu rumah sakit. Curhatnya ini berakibat buruk bagi dirinya. Prita dituntut oleh rumah sakit tersebut ke pengadilan. 

Tapi simpati masyarakat tak terbendung. Lalu muncullah gerakan Koin Untuk Prita yang disinyalir menjadi pionir bagi kasus – kasus berikutnya.

Penting juga dicatat, simpati yang didapat juga tak selamanya berbuah manis. Si miskin tak selamanya benar, tapi kadung mendapat dukungan masyarakat. Seringkali terjadi kita merasa menyesal telah mendukung sesuatu yang salah hanya karena kita lebih dulu empati terhadap si miskin.

Percy juga begitu. Film tidak secara tegas menunjukkan siapa yang salah dan benar. Film yang diproduksi oleh Scythia Films ini lebih menyoroti persoalan kedudukan masyarakat di mata hukum.  Persoalan apakah Percy benar-benar menggunakan benih milik Monsanto hanya menjadi narasi pendamping di film ini.

Percy tayang perdana di Quebec City Film Festival 2020


Film yang ditulis oleh Garfield Lindsay Miller dan Hilary Pryor ini tayang perdana di Quebec City Film Festival 2020. Namun kisah perjuangan petani miskin yang sarat dengan lika-liku ini, kini bisa ditonton di Mola TV.

Cukup berlangganan streaming Mola TV seharga Rp. 12.500,-/bulan, kamu sudah bisa menonton Percy.  Metode pembayarannya pun sangat beragam, bisa menggunakan Gopay, Ovo, BCA dan lain-lain.

Dan kabar baiknya, dengan biaya langganan segitu, kamu tidak hanya bisa menyaksikan Percy saja, tapi juga bisa menyaksikan film – film menarik lainnya yang ada di Mola TV. 

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.