Untuk informasi dan aktivitas FFB terkini, tonton video terbaru di Channel Youtube kami. Subscribe Here!

Review The Night Comes For Us (2018): Penuh Dengan Adegan Laga Kekerasan & Berdarah

Dua minggu sudah, sejak pemerintah Indonesia mengimbau untuk #dirumahaja, saya pun cukup patuh mengikutinya. Bersyukur masih banyak pekerjaan (menghasilkan) yang bisa dilakukan dari rumah. Apakah dilanda rasa bosan?

Ya! Yang aneh, dalam keadaan biasa, rebahan terasa nikmat, tapi kenapa dalam keadaan wabah corona seperti ini, malah terasa bosan ya. Apakah ada yang sama?

Salah satu cara saya mengatasi kebosanan ya nonton film. Sudah berbagai film/series di berbagai layanan streaming legal saya tonton.

Kali ini saya tertarik berbagi cerita tentang film The Night Comes For Us karya Timo Tjahjanto yang tayang di Netflix pada 19 Oktober 2018. Jadi film ini memang nggak ada di bioskop reguler ya.

The Night Comes For Us, bercerita tentang Ito (Joe Taslim) yang berkhianat dari Six Seas (kelompok kejahatan yang paling disegani). Ito merasa kasihan dengan anak kecil yang harus ia bunuh. Maka, ia memutuskan menyelamatkan anak kecil itu, dan membunuh rekan-rekannya di Six Seas.

Namun tak disangka, perbuatan Ito ini justru malah membuat nyawa si anak terancam, pun juga dengan nyawanya.

Secara cerita, The NIght Comes For Us, tidaklah spesial. Jualan utama film ini justru hadir dari aksi kekerasan penuh darah yang hampir mengisi seluruh durasi film.

Beberapa aksi brutal tersebut saat Ito bertarung dengan Yohan (Revaldo), sang tukang jagal daging dan manusia. Adegan-adegan tusuk-tusukan menggunakan alat-alat seperti pisau, bor, dan alat-alat sejenis lainnya. Darah muncrat di mana-mana. Dan sudah bikin ngilu sejak awal.

Adegan-adegan berdarah menggunakan alat terus menerus disajikan sepanjang film, hingga The NIght Comes For Us mencapai puncaknya: perkelahian tangan kosong antara Joe Taslim dan Iko Uwais.

Memasang dua aktor laga kebanggaan Indonesia sebagai lead actor, tentunya nggak asyik jika mereka bertarung dengan senjata.

Adalah Iko Uwais yang berperan sebagai Arian, peran antagonis di film ini. Semula Arian dan Ito adalah teman baik. Karenanya Arian menyusul Ito yang lebih dulu masuk Six Seas. Apa motivasi Ito menyusul Arian kurang mendapat gambaran jelas, selain ia hanya ingin menaikkan status sosialnya dari seorang bocah melarat berdampingan dengan para jagoan.

Tapi untuk apa dan di mata siapa, ia dianggap naik derajat sosialnya?

Kehidupan sosial budaya di film ini, tidak terlalu dilukiskan. Hal ini membuat motivasi para karakter di film ini kurang jelas. Yang penting berantem!

Jika dibandingkan dengan dua series The Raid, saya lebih suka The Raid karena masih memiliki dimensi latar sosial yang menopang jalannya cerita. Bahkan, dengan Foxtrot Six saja, The NIght Comes For Us, masih kalah dari segi dinamika konflik politik yang dihadirkan.

Namun untuk urusan kebrutalan dan kesadisan, sekali lagi Timo menunjukkan imajinasinya dengan sangat baik.

Bagaimana Hannah Al-Rashid masih bertarung dengan usus terburai, bagaimana Dian Sastro harus meregang nyawa dengan alat yang ia punya sendiri, dan bagaimana Zack Lee si bule kuat yang diberondong peluru dan celurit, serta bagaimana para pemain figuran/extras yang mati mengenaskan dengan berbagai cara.

The Night Comes For Us memang pas bagi mereka yang suka dengan film-film sadis nan penuh kekerasan.

Tapi satu yang pasti, di Hari Film Nasional ini, saya bangga ada film Indonesia yang bisa berkibar di platform digital internasional. Dan semoga menjadi langkah awal yang baik bagi perfilman Indonesia.

Selamat Hari Film Nasional 2020.



 

Read Also :
Pecinta Musik dan Film Indonesia yang bercita-cita menjadi Jurnalis atau Entertainer namun malah tersesat di dunia Informatika

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung ke RajaSinema. Kami sangat senang jika anda berkenan meniggalkan komentar dengan bijak, tanpa link aktif, dan kata-kata kasar.